, ,

Kota Cimahi Kembali Terendam, Warga Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan

oleh -1144 Dilihat

Cimahi Tenggelam: Banjir Melanda di Berbagai Titik, Drainase Tak Lagi Mampu Menahan Amukan Air

Diskusi Cimahi– Kota yang kerap menjadi persinggahan antara Bandung dan Jakarta, sekali lagi merintih. Bukannya disambut oleh kesibukan lalu lintas yang biasa, suasana di akhir Oktober 2025 justru diwarnai oleh genangan air dan wajah-warga yang waspada. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kota ini bukan hanya sekadar penyegar udara, melainkan menjadi bencana yang menggenangi berbagai sudut kota. Saluran drainase, yang seharusnya menjadi penyalur utama air hujan, ternyata hanya bisa pasrah menyaksikan debit air yang melampaui kapasitasnya, berujung pada banjir limpasan yang menerobos masuk ke dalam rumah-rumah warga.

Laporan-laporan banjir pun berdatangan ke meja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi. Kawasan Jalan Singkurmulya di Cimahi Utara dan Jalan Melong Tengah di Cimahi Selatan menjadi saksi bisu bagaimana air dengan cepat berubah dari teman menjadi lawan. Namun, daftar itu tidak berhenti di sana. Simpang Pasar Cimindi-Cigugur Tengah (Jalan Mahar Martanegara) juga tak luput dari terjangan banjir, sementara di Kampung Cisangkan, Cimahi Tengah, kondisi diperparah dengan jebolnya tanggul dari aliran Sungai Cipejeh, mengalirkan derasnya air sungai langsung ke pemukiman.

Respon Cepat di Tengah Genangan

Menyikapi kejadian ini, Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan atau yang akrab disapa Andy, menyatakan bahwa personilnya telah bergerak cepat. “Tim BPBD Kota Cimahi melalui Unit Reaksi Cepat meninjau lokasi terdampak. Juga dilakukan pendistribusian logistik darurat kepada warga terdampak,” ujarnya pada Minggu (26/10/2025).

Cimahi Dilanda Banjir di Berbagai Titik, Drainase Tak Mampu Tampung Debit Air, Warga Diminta Siaga

Baca Juga: Kapan Pendaftaran CPNS 2026 Dibuka? Catat Jadwal dan Syaratnya Terbarunya di Sini!

Di balik respon tanggap tersebut, Andy menyampaikan pesan penting kepada seluruh lapisan masyarakat. Ia meminta semua pihak, termasuk warga, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana geohidrometeorologi—bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca dan air. Peringatan ini bukannya tanpa alasan. Saat ini, Indonesia, termasuk Cimahi, sedang memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

“Fenomena cuaca ekstrem ini umumnya terjadi pada musim peralihan cuaca yaitu antara musim kemarau dan musim hujan. Mulai dari suhu panas, angin puting beliung, curah hujan lebat disertai angin kencang, bahkan bisa terjadi hujan es,” papar Andy.

Drainase yang Kolaps dan Titik Langganan Banjir

Andy juga mengakui bahwa lokasi-lokasi yang tergenang pada hari itu adalah ‘langganan’ banjir. “Lokasi jalan yang terendam sebagian sering tergenang kalau hujan deras,” ucapnya. Namun, yang menjadi perhatian adalah durasi dan kedalaman genangan yang bervariasi.

“Ada yang cepat surut, namun ada titik jalan seperti Anggaraja yang kedalaman airnya lumayan dalam karena kontur jalan. Memang kondisi saluran drainase mempengaruhi daya tampung air, kalau ada hambatan air akan meluber ke jalan,” jelasnya.

Pernyataan Andy ini menyoroti akar masalah yang klasik namun krusial: ketidakmampuan infrastruktur drainase kota dalam menghadapi curah hujan ekstrem. Saluran yang seharusnya mengalirkan air dengan lancar, kini terhambat oleh berbagai faktor, mulai dari penyempitan akibat sedimentasi, sampah yang menyumbat, hingga desainnya yang mungkin sudah tidak lagi memadai untuk menampung volume air hujan yang semakin tinggi.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.